GUDANG NARASI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan terbaru data korban bencana hidrometeorologi (banjir dan longsor) yang melanda Pulau Sumatra, khususnya di tiga provinsi terdampak yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Per Rabu, 24 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia terus bertambah dan mencapai 1.129 orang, sementara 174 orang masih dinyatakan hilang. Jumlah korban ini merupakan akumulasi dari dampak hujan ekstrem yang terjadi sejak akhir November 2025 lalu yang memicu banjir besar, tanah longsor, serta kerusakan infrastruktur parah di wilayah pegunungan dan dataran rendah pulau ini.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan dalam jumpa pers virtual bahwa jumlah korban tewas bertambah 17 orang dibanding data sebelumnya, yang kini didominasi oleh provinsi Aceh. Penambahan korban ini berasal dari Aceh sebanyak 14 jiwa, sedangkan sisanya dari wilayah Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga di Sumatera Utara.
Sementara itu, jumlah orang yang masih hilang saat ini tercatat ada 174 orang setelah dilakukan verifikasi ulang, sedikit menurun dari angka sebelumnya, dan jumlah pengungsi menjadi sangat besar mencapai sekitar 496.293 jiwa yang tersebar di berbagai titik pengungsian di tiga provinsi terdampak.
Gambaran Situasi di Lapangan
Bencana di Pulau Sumatra ini dipicu oleh curah hujan ekstrem selama beberapa pekan yang mengakibatkan sungai-sungai meluap, tanah di lereng pegunungan menjadi labil, serta memicu longsor masif di sejumlah wilayah. Wilayah yang paling terdampak adalah Aceh Utara, Aceh Tamiang, wilayah Tapanuli di Sumatera Utara, serta sejumlah daerah di Sumatera Barat di sepanjang aliran sungai besar dan anak sungai. Meski angka resmi terus diperbarui, kondisi di lapangan sering kali lebih dinamis karena proses evakuasi masih berjalan dan sejumlah daerah masih terisolasi akibat rusaknya jalur transportasi.
Dalam data yang lebih awal sebelum kenaikan angka terbaru tercatat bahwa hampir 1,112 orang telah meninggal dunia, 176 kehilangan kontak, dan lebih dari 7.000 orang mengalami luka-luka akibat bencana ini, serta ratusan ribu bangunan rusak, termasuk rumah, fasilitas pendidikan, dan fasilitas kesehatan. Kerusakan infrastruktur tersebut memperlambat proses pencarian dan penyaluran bantuan terutama di daerah terpencil.
Upaya Penanggulangan
Tim SAR (Search and Rescue) gabungan yang melibatkan BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan terus melakukan evakuasi korban. Akses ke sejumlah lokasi masih sulit, sehingga operasi pencarian terhadap warga yang hilang membutuhkan waktu panjang dan tenaga ekstra di medan berat.
Selain itu, pemerintah juga mulai melakukan pembangunan sementara infrastruktur penting, seperti pembukaan akses jalan yang putus dan pembangunan jembatan sementara, serta persiapan fasilitas hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) untuk para penyintas yang rumahnya rusak berat atau tidak bisa dihuni lagi. Menurut data BNPB, saat ini 12 kabupaten/kota telah bergeser dari status tanggap darurat menuju transisi darurat, menandakan fase penanganan sudah mulai memasuki tahap pemulihan.
Dukungan Pemerintah dan Tokoh Nasional
Pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto, menyatakan dukungannya penuh terhadap upaya pemulihan kebutuhan dasar masyarakat korban bencana. Prabowo bahkan menyampaikan gagasan untuk memanfaatkan hasil penertiban kawasan hutan dan aset negara untuk membiayai pembangunan hunian tetap bagi korban, dengan target mencapai puluhan ribu unit rumah, serta renovasi sekolah-sekolah yang rusak parah akibat banjir dan longsor. Langkah ini diharapkan membantu mempercepat pemulihan sosial ekonomi masyarakat di wilayah bencana.
Partai politik seperti PKS juga mengapresiasi kerja keras TNI, Polri, BNPB, Basarnas, serta relawan di lapangan yang terus bertahan di daerah terdampak, memberikan bantuan logistik, layanan kesehatan darurat, serta upaya evakuasi meski kondisi medan sangat menantang.
Mengapa Dampak Bencana Begitu Berat?
Para analis memperkirakan bahwa kombinasi curah hujan tinggi, topografi pegunungan, serta masih lemahnya sistem drainase dan mitigasi di daerah terpencil merupakan faktor yang memperparah intensitas bencana ini. Banyak daerah yang tidak sempat memperkuat sistem peringatan dini atau jalur evakuasi, sehingga ketika hujan deras mengguyur, aliran sungai yang deras dan longsor yang terjadi secara cepat meninggalkan sedikit waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri.
Harapan dan Tantangan Ke Depan
Dengan jumlah korban yang terus naik mendekati angka tragis di atas seribu jiwa, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan semua warga yang hilang segera ditemukan atau dipastikan kondisinya, memberikan dukungan trauma dan psikologis bagi keluarga korban, serta membangun kembali kehidupan sosial-ekonomi di wilayah terdampak.
Masih banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, serta akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, dan masyarakat luas menjadi kunci utama dalam mempercepat proses pemulihan di Sumatra pasca-bencana besar ini.











