GUDANG NARASI – Gelombang intimidasi terhadap suara-suara kritis di media sosial semakin mengkhawatirkan. Menjelang pergantian tahun 2026, pola teror fisik yang serupa mulai menyasar sejumlah figur publik dan aktivis lingkungan. Setelah publik dikejutkan oleh pelemparan bom molotov di kediaman Ramond Dony Adam atau yang dikenal sebagai DJ Donny, terungkap bahwa Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, juga mengalami intimidasi serupa berupa kiriman bangkai ayam di teras rumahnya.
Rangkaian kejadian ini memicu alarm keras bagi kebebasan berpendapat di Indonesia. Para korban menduga kuat bahwa tindakan pengecut ini merupakan upaya sistematis untuk membungkam kritik mereka terhadap penanganan bencana dan isu-isu lingkungan di Indonesia.
Kronologi Teror Bangkai Ayam di Rumah Aktivis
Peristiwa yang menimpa Iqbal Damanik terjadi pada Selasa pagi, 30 Desember 2025. Menurut keterangan resmi dari Greenpeace Indonesia, Iqbal awalnya mendengar suara benda jatuh di teras rumahnya pada dini hari. Namun, karena situasi masih gelap, ia baru memeriksa halaman rumahnya sekitar pukul 05.30 WIB.
Di sana, ia menemukan seekor bangkai ayam yang diletakkan begitu saja tanpa pembungkus. Yang lebih mengerikan, pada kaki bangkai ayam tersebut terikat secarik kertas berisi pesan ancaman yang ditulis dengan nada intimidatif:
“Jagalah ucapanmu apabila anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu.”
Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menegaskan bahwa teror ini berkaitan erat dengan aktivitas Iqbal yang belakangan vokal menyoroti penanganan banjir dan bencana di Sumatera melalui akun media sosialnya.
“Upaya teror ini tidak akan membuat kami gentar. Greenpeace akan terus bersuara untuk keadilan iklim, HAM, dan demokrasi,” tegas Leonard dalam siaran pers resminya.
Pola Serupa: Dari Bangkai Ayam hingga Bom Molotov
Kasus yang menimpa Iqbal memiliki pola yang sangat mirip dengan apa yang dialami oleh DJ Donny. Sebelum rumahnya di Jakarta Timur dilempari bom molotov pada Rabu (31/12/2025) dini hari, DJ Donny mengaku sudah lebih dulu menerima kiriman bangkai ayam pada Senin malam sebelumnya.
Berbeda dengan Iqbal, teror terhadap DJ Donny meningkat drastis skalanya. Berdasarkan rekaman CCTV, dua orang tak dikenal bermasker melemparkan dua botol molotov ke arah kendaraannya. Beruntung, api tidak sempat meledak hebat, namun pesan intimidasi tersebut jelas: keselamatan nyawa kini menjadi taruhan bagi mereka yang berani bersuara.
Selain DJ Donny dan Iqbal, beberapa nama lain seperti pemengaruh Sherly Annavita dan aktivis Virdian juga dilaporkan mengalami berbagai bentuk tekanan, mulai dari doxing, pecah kaca mobil, hingga ancaman pembunuhan melalui pesan singkat.
Reaksi Organisasi Sipil dan Aparat
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) serta Amnesty International Indonesia mendesak kepolisian, khususnya Polda Metro Jaya, untuk segera mengusut tuntas dalang di balik teror ini. Mereka menilai jika dibiarkan, hal ini akan menciptakan efek gentar (chilling effect) yang mematikan demokrasi.
“Negara harus menjamin keamanan warga negaranya yang menyampaikan pendapat. Kritik seharusnya dijawab dengan data dan perbaikan kebijakan, bukan dengan bangkai hewan atau bom molotov,” ujar salah satu perwakilan aktivis HAM dalam sebuah diskusi daring.
Saat ini, Tim INAFIS dari kepolisian telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di kediaman DJ Donny. Namun, hingga berita ini diturunkan, pelaku pelemparan maupun pengirim paket bangkai ayam tersebut masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
Ancaman Terhadap Demokrasi 2026
Masuknya tahun 2026 disambut dengan awan mendung bagi kebebasan berekspresi. Fenomena “teror bangkai” ini dianggap sebagai bentuk intimidasi psikologis yang sangat personal karena menyasar wilayah privat (rumah) dan keluarga korban. Para analis media sosial mencatat bahwa serangan fisik ini biasanya didahului oleh kampanye negatif dan perundungan digital oleh akun-akun anonim di platform X dan Instagram.
Masyarakat sipil kini menyerukan solidaritas nasional dengan tagar #HentikanTeror untuk mendukung para aktivis yang sedang berjuang. Mereka menuntut transparansi dari aparat kepolisian agar kasus ini tidak menguap begitu saja seperti kasus-kasus intimidasi aktivis di tahun-tahun sebelumnya.











