Rob Muara Angke Datang Lagi: Warga Tetap Beraktivitas

Rob Muara Angke Datang Lagi Warga Tetap Beraktivitas

GUDANG NARASI – Fenomena banjir rob atau air laut pasang kembali menyapa kawasan pesisir utara Jakarta, termasuk wilayah padat penduduk Muara Angke. Meskipun genangan air telah merendam sejumlah area permukiman hingga mencapai ketinggian betis orang dewasa, pemandangan yang dominan terlihat bukanlah kepanikan, melainkan potret ketangguhan dan adaptasi abadi warga Muara Angke. Rutinitas harian mereka seolah memiliki kekebalan tersendiri, tetap berjalan di tengah lintasan air asin yang kian tak menentu siklusnya.

Hidup Berdampingan dengan Air Pasang

Banjir rob di Muara Angke, khususnya di area seperti Kampung Empang dan Dermaga Ujung, bukanlah lagi peristiwa sesaat, melainkan bagian dari siklus harian yang harus dihadapi. Sejak pagi hari, ketika air pasang perlahan mulai menyusup ke jalan-jalan lingkungan, warga setempat sudah bersiap.

Di tengah genangan yang mencapai 30 hingga 60 sentimeter di beberapa titik, anak-anak terlihat tetap asyik bermain di tepian air, seolah genangan tersebut adalah kolam alami yang tak mengganggu. Sementara itu, para orang dewasa sibuk menyesuaikan aktivitas ekonomi dan rumah tangga mereka. Para nelayan dan buruh lepas di sekitar Pelabuhan Perikanan Muara Angke tetap berangkat melaut atau beraktivitas di dermaga. Meskipun akses jalan menuju pelabuhan sempat sulit dilalui kendaraan imbas genangan, semangat mereka untuk mencari nafkah tak surut. Distribusi ikan hasil tangkapan mungkin sedikit terhambat, namun transaksi jual beli tetap berlangsung, meskipun harus dilakukan dengan kaki telanjang atau menggunakan sepatu bot.

“Sudah biasa di sini. Sudah nggak kaget,” ujar Ibu Sri (46), seorang warga lokal yang telah puluhan tahun tinggal di Muara Angke, seperti mencerminkan suara mayoritas tetangganya.

Ketahanan ini muncul dari pengalaman turun-temurun. Warga telah mengembangkan mekanisme adaptasi yang unik: meninggikan perabot rumah tangga di atas bangku atau meja untuk menghindari kerusakan barang elektronik, hingga membangun fondasi rumah panggung secara swadaya. Meskipun upaya ini tidak selalu efektif menahan air yang datang lebih tinggi, hal ini menunjukkan keengganan mereka untuk menyerah pada keadaan.

Harapan pada Infrastruktur Mitigasi

Meskipun menunjukkan ketangguhan yang luar biasa, warga Muara Angke tidak menampik bahwa kondisi ini memerlukan solusi jangka panjang. Data menunjukkan bahwa banjir rob kali ini merendam hingga 11 Rukun Tetangga (RT) di RW 22 Kelurahan Pluit, Penjaringan. Selain genangan air, masalah lain yang muncul adalah tumpukan sampah yang terbawa arus rob, mengganggu kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Kabar baiknya, upaya mitigasi jangka panjang tengah dikebut oleh pemerintah. Pembangunan tanggul mitigasi rob di Muara Angke merupakan salah satu proyek vital yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2025, yang diharapkan dapat menahan luapan air laut hingga elevasi 2,5 meter. Proyek ini dibangun sembari menunggu rampungnya Tanggul Laut Raksasa (NCICD) secara keseluruhan yang diprediksi selesai pada tahun 2030.

Warga berharap percepatan pembangunan tanggul ini dapat memberikan perlindungan yang lebih permanen. Namun, di saat yang sama, sebagian besar warga juga memilih untuk bertahan di rumah mereka saat ini. Alasan utamanya adalah kepemilikan rumah pribadi dan kekhawatiran akan biaya hidup, serta proses adaptasi jika harus direlokasi ke rumah susun atau tempat tinggal baru. Mereka memilih untuk beradaptasi dengan rob, sambil tetap menanti janji infrastruktur yang lebih baik.

Di tengah genangan air yang datang dan pergi, Muara Angke tetap berdenyut. Perahu-perahu nelayan tetap bersandar dan berlayar, pasar ikan tetap ramai, dan anak-anak tetap bersekolah. Banjir rob mungkin telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kehidupan pesisir, namun semangat untuk menjalani rutinitas harian tetap menjadi mata air kekuatan bagi warga Muara Angke.