GUDANG NARASI — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menjadi sorotan setelah mengungkap lima kunci strategis yang dipandang krusial untuk menguasai riset kesehatan di masa depan. Di tengah kompleksitas tantangan kesehatan global, mulai dari ancaman penyakit baru hingga kebutuhan sistem kesehatan yang lebih tangguh, BRIN menegaskan bahwa penguasaan riset bukan hanya soal kemampuan ilmiah semata, tetapi juga soal sinergi kebijakan, kolaborasi teknologi, serta kesiapan sumber daya manusia yang unggul. Temuan ini muncul dari berbagai forum dan seminar yang melibatkan para pemangku kepentingan riset di Indonesia, serta didukung oleh berbagai inisiatif penguatan riset tanah air.
Pengungkapan kunci ini bukan sekadar menjadi langkah internal BRIN, tetapi juga menjadi panduan penting bagi para ilmuwan, akademisi, pembuat kebijakan, dan sektor swasta dalam menyiapkan strategi riset kesehatan nasional yang lebih efektif dan berdampak luas kepada masyarakat. Tema besar yang muncul adalah “riset kesehatan masa depan harus berbasis kebutuhan nyata masyarakat sekaligus responsif terhadap ancaman kesehatan yang terus berkembang.”
Memperkuat Infrastruktur Riset dan Teknologi
Untuk menguasai riset kesehatan masa depan, BRIN menekankan bahwa infrastruktur riset yang kuat menjadi fondasi utama. Dalam konteks ini, fasilitas seperti laboratorium genomik, fasilitas biosafety level tinggi, hingga peralatan penelitian modern menjadi elemen penting yang harus tersedia secara memadai. Dengan dukungan infrastruktur tersebut, para peneliti bisa mengembangkan solusi berbasis bukti ilmiah yang relevan dengan tantangan kesehatan kontemporer, termasuk penyakit infeksi emerging dan re‑emerging.
Tidak hanya itu, kemampuan teknologi seperti big data untuk analis genomik, serta sistem penyimpanan data yang terstandarisasi, dinilai menjadi kunci agar hasil riset dapat diakses dan dimanfaatkan secara luas. Misalnya, pengembangan repository nasional seperti Indonesia Nucleotide Archive (INNA) dirancang untuk mendukung pengolahan data genetika besar yang memungkinkan penelitian penyakit masa depan serta prediksi kondisi kesehatan masyarakat secara lebih akurat.
Kolaborasi Ilmiah yang Lebih Luas dan Terintegrasi
BRIN juga menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci kedua dalam penguasaan riset kesehatan masa depan. Kolaborasi di sini tidak hanya terjadi antara lembaga riset domestik, tetapi juga melibatkan perguruan tinggi, sektor swasta, organisasi internasional, serta komunitas global ilmuwan. Melalui bentuk kolaborasi ini, pertukaran pengetahuan dan sumber daya bisa berjalan lebih cepat dan efektif, sehingga memperkaya kualitas penelitian dan inovasi di tanah air.
Salah satu wujud nyata kolaborasi ini adalah kesiapan BRIN untuk bergabung dalam ekosistem riset seperti Biomedical Genome Science Initiative (BGSI), sebuah inisiatif yang mengintegrasikan riset genomik untuk menangani penyakit secara presisi berdasarkan karakteristik genetik individu. Keberadaan jaringan kerja yang solid antar lembaga ini diharapkan mampu mempercepat langkah Indonesia dalam menjawab tantangan kesehatan masa depan.
Pengembangan Sumber Daya Manusia Riset yang Unggul
Kunci ketiga yang diidentifikasi BRIN adalah kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) riset yang tidak hanya berkompeten secara ilmiah, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan masyarakat. Tenaga ahli seperti biostatistikawan, ahli genomik, epidemiolog, hingga ilmuwan bioinformatika merupakan contoh SDM yang akan mendominasi lanskap riset kesehatan ke depan. Investasi untuk melatih, retensi, dan pemupukan bakat riset ini dinilai sangat penting agar Indonesia memiliki daya saing global.
Selain keterampilan teknis, SDM riset juga perlu dipersiapkan untuk terlibat dalam riset inter‑disipliner serta pendekatan One Health, di mana kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. BRIN menilai bahwa pendekatan seperti ini akan menjadi standar baru dalam riset kesehatan masa depan, khususnya dalam menangani penyakit yang berasal dari interaksi manusia hewan lingkungan.
Pendekatan Riset yang Tepat Sasaran dan Berorientasi Dampak
Kunci keempat yang disoroti oleh BRIN adalah pentingnya riset yang tepat sasaran dengan fokus dampak. Artinya, penelitian tidak lagi dilakukan hanya untuk mengejar publikasi ilmiah, tetapi harus berkontribusi langsung pada solusi bagi permasalahan kesehatan masyarakat. Pendekatan ini mendorong penelitian lebih berorientasi pada misi (mission‑oriented research), termasuk riset tentang sistem kesehatan, pencegahan penyakit menular, dan pengembangan vaksin atau terapi baru.
BRIN menekankan bahwa riset seperti ini seharusnya mampu menjembatani hasil penelitian ke dalam kebijakan publik yang efektif, sistem layanan kesehatan yang lebih baik, atau produk inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Dengan orientasi dampak yang jelas, hasil riset kesehatan bisa lebih cepat diadopsi oleh sistem kesehatan nasional.
Penguatan Ekosistem Kebijakan dan Regulasi yang Mendukung
Agar penguasaan riset kesehatan masa depan dapat berjalan lancar, BRIN mencermati bahwa aspek kebijakan dan regulasi harus berada dalam koridor yang mendukung. Ini termasuk kebijakan pendanaan riset yang berkelanjutan, aturan yang memfasilitasi kolaborasi riset, serta tata kelola data kesehatan yang aman dan etis. Regulasi yang tepat akan memberikan kepastian bagi para peneliti serta pemangku kepentingan lainnya untuk berinvestasi waktu dan sumber daya dalam kegiatan riset jangka panjang.
Selain itu, kebijakan ini juga harus mampu mendukung percepatan hilirisasi riset ke dalam produk nyata serta layanan kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Harmonisasi antara regulasi riset, kesehatan publik, serta perlindungan privasi data menjadi salah satu tantangan yang harus diatasi agar hasil riset dapat diterapkan secara luas tanpa mengorbankan hak‑hak individu atau keselamatan publik.







