GUDANG NARASI – Beberapa hari terakhir, Pulau Sumatera kembali menjadi sorotan nasional. Gelombang hujan ekstrem disertai badai tropis mengakibatkan banjir serta longsor di berbagai provinsi termasuk Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Korban jiwa berguguran, rumah‑rumah rusak, dan ribuan jiwa terpaksa mengungsi. Namun, sebagai masyarakat, kita perlu menyadari bahwa musibah ini bukan semata “karena hujan”.
Fakta: Hujan memang parah tapi ada yang lebih besar
Memang benar: curah hujan di Sumatera saat ini mencapai kategori ekstrem. Menurut pakar meteorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), wilayah utara Sumatera tengah memasuki puncak musim hujan, dan hujan intensitas tinggi serta fenomena sirkulasi siklonik memperparah situasi.
Tapi data terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa banjir dan longsor terjadi tidak hanya karena hujan ekstrem, melainkan juga karena “kondisi geomorfologi dan litologi yang lapuk” artinya struktur tanah dan kondisi geologi ikut memainkan peran besar.
Penyebab lain: Kerusakan lingkungan & tata kelola hutan
Dalam artikel opini “Berhenti menyalahkan hujan”, disebutkan bahwa aktivitas pertambangan dan deforestasi di hulu sungai terutama di daerah seperti kawasan Batang Toru, Sumut telah merusak daya serap tanah dan sistem tata air alami. Tutupan hutan hilang, sehingga ketika hujan datang, air tidak terserap dengan baik dan langsung meluap ke hilir, menyebabkan banjir bandang.
Kondisi ekologi yang rusak ini erosi, sedimentasi, kerusakan daerah aliran sungai (DAS) memperparah dampak hujan. Jadi hujan hanyalah pemicu, sedangkan “panggung bencana” sudah terpasang jauh sebelum air turun.
Data terkini: Skala bencana makin luas
Laporan terbaru menyebut bahwa puluhan hingga ratusan orang telah meninggal akibat banjir dan longsor di Sumatera dengan rumah‑rumah hancur, infrastruktur rusak, serta ribuan keluarga mengungsi.
Pemerintah pun tidak menutup mata. Tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah dikirim untuk menyelidiki penyebab bukan hanya menanggulangi dampak sesaat. Sementara itu, pejabat kehutanan menyerukan agar kejadian ini menjadi momentum bagi perbaikan serius dalam manajemen lingkungan dan hutan di Indonesia.
Hujan hanyalah pemantik bukan biang kerok tunggal
Menuduh hujan sebagai penyebab utama bencana di Sumatera adalah simplifikasi berbahaya. Hujan hanyalah pemantik sedangkan akar bencana sesungguhnya adalah kerusakan lingkungan, deforestasi, tata kelola DAS yang buruk, serta perubahan kondisi geologi dan tata ruang.
Kalau kita terus memikirkan “hujan” sebagai musuh utama, kita mengabaikan dan gagal memperbaiki penyebab struktural dari bencana. Ini sama saja seperti menambal atap tanpa memperhatikan fondasi rumah.
Kenapa ini penting?
- Mengidentifikasi penyebab sesungguhnya membantu pemerintah dan masyarakat menentukan solusi jangka panjang seperti rehabilitasi hutan, pengaturan zona rawan bencana, serta pengelolaan DAS.
- Mencegah anggapan keliru bahwa bencana adalah “takdir alam” yang tidak bisa diubah padahal banyak aspek bisa dikendalikan manusia.
- Meningkatkan literasi lingkungan dan kesadaran bersama bahwa menjaga alam bukan sekadar soal pepohonan, tapi juga soal keselamatan manusia.










