GUDANG NARASI – Musibah banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, pada awal Januari 2026 kembali memicu perdebatan panas di tengah masyarakat. Curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Banten sejak Jumat, 2 Januari 2026, mengakibatkan akses jalan utama menuju Pelabuhan Ciwandan dan Jalan Lingkar Selatan (JLS) lumpuh total. Di balik genangan air yang merendam pemukiman warga, muncul tudingan tajam: apakah aktivitas pertambangan galian C di perbukitan Ciwandan menjadi biang kerok utama bencana ini?
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten, Ari James, memberikan penjelasan resmi untuk mengklarifikasi keterkaitan antara aktivitas tambang dan banjir yang terjadi.
Tambang Bukan Penyebab Dominan
Dalam keterangan persnya yang dirilis pada Selasa (6/1/2026), Ari James menegaskan bahwa aktivitas pertambangan di wilayah Ciwandan bukanlah faktor dominan yang menyebabkan banjir. Berdasarkan data teknis yang dimiliki Dinas ESDM Banten, luas area pertambangan aktif di Ciwandan relatif kecil dibandingkan dengan total luas wilayah kecamatan tersebut.
“Area pertambangan yang saat ini beroperasi di Ciwandan hanya mencakup lahan seluas kurang lebih 32 hektare. Jika kita bandingkan dengan total luas wilayah Kecamatan Ciwandan yang mencapai 3.300 hektare, maka porsi lahan tambang ini sangat kecil, yakni kurang dari satu persen,” ujar Ari.
Menurutnya, penyebab utama banjir yang terjadi lebih dipengaruhi oleh faktor alam, yaitu intensitas hujan yang sangat tinggi dalam durasi yang lama, serta sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air yang meluap dari berbagai arah, bukan hanya dari area perbukitan yang ditambang.
Hanya Dua Perusahaan Legal
Lebih lanjut, Ari James mengungkapkan bahwa saat ini hanya ada dua perusahaan pertambangan yang memegang izin resmi dan beroperasi secara legal di Kecamatan Ciwandan, yakni PT Delimas Lestari dan PT Batu Buana Makmur. Dinas ESDM Banten mengklaim telah melakukan pengawasan ketat terhadap kedua perusahaan tersebut, termasuk dalam hal pengelolaan lingkungan dan kewajiban reklamasi pascatambang.
“Kami rutin melakukan pengecekan pada empat aspek utama: administrasi, perizinan kewilayahan, finansial, serta aspek teknis lingkungan. Kedua perusahaan tersebut sejauh ini menjalankan kewajibannya sesuai dengan ketentuan dokumen AMDAL yang ada,” tambahnya.
Meski demikian, pernyataan ini berbanding terbalik dengan keresahan warga dan desakan dari sejumlah elemen mahasiswa. Sehari sebelumnya (4/1/2026), sekelompok mahasiswa melakukan aksi protes yang menuntut transparansi terkait izin galian C dan mendesak pemerintah untuk mengevaluasi keberadaan tambang di perbukitan Ciwandan. Mereka menilai kerusakan ekologis di area hulu tetap berkontribusi pada hilangnya daerah resapan air.
Tantangan Hidrometeorologi di Banten
Banjir di Ciwandan tidak berdiri sendiri. Sejak awal tahun 2026, Provinsi Banten memang sedang dilanda bencana hidrometeorologi serentak. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten mencatat ribuan rumah terendam di enam titik berbeda, termasuk di Kota Serang dan Kabupaten Lebak.
Kondisi geografis Ciwandan yang berada di bawah kaki bukit menjadikannya wilayah yang rawan mendapatkan “kiriman” air saat cuaca ekstrem. Namun, Kadis ESDM Banten menekankan bahwa menyalahkan tambang sebagai satu-satunya penyebab adalah penilaian yang kurang akurat secara data spasial.
“Banjir ini murni akibat curah hujan yang melampaui kapasitas daya tampung lingkungan. Namun, kami tidak menutup mata. Kami akan tetap mengevaluasi apakah ada aktivitas tambang ilegal di luar dua perusahaan berizin tersebut yang luput dari pantauan dan memperparah kondisi sedimentasi di saluran air warga,” tegas Ari.
Upaya Mitigasi ke Depan
Sebagai langkah tindak lanjut, Dinas ESDM Banten berencana menggandeng Pemerintah Kota Cilegon untuk melakukan pemetaan ulang titik-titik rawan banjir yang bersinggungan dengan area industri dan pertambangan. Walikota Cilegon sendiri telah menginstruksikan jajarannya untuk menyusun langkah mitigasi jangka panjang, termasuk normalisasi drainase dan pembangunan tanggul penahan di titik-titik strategis.
Di sisi lain, bantuan sosial mulai mengalir bagi warga terdampak. Pelindo Regional 2 Banten, sebagai salah satu pemangku kepentingan di Ciwandan, telah menyalurkan ratusan paket sembako untuk meringankan beban masyarakat yang aktivitas ekonominya terganggu akibat genangan air.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi air di beberapa titik Jalan Lingkar Selatan (JLS) sudah mulai surut, dan arus lalu lintas menuju pelabuhan mulai kembali normal. Namun, masyarakat tetap diminta waspada mengingat prakiraan BMKG menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat masih akan terjadi hingga pertengahan Januari.











