GUDANG NARASI – Sebuah tragedi besar terjadi di perairan Filipina selatan setelah kapal feri MV Trisha Kerstin 3, yang membawa lebih dari 350 orang, dilaporkan tenggelam pada dini hari. Insiden ini telah menewaskan setidaknya 15 orang, sementara puluhan lainnya masih hilang dan ratusan lagi berhasil diselamatkan dalam operasi pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung.
Kronologi Kejadian
Kapal feri MV Trisha Kerstin 3 dilaporkan tenggelam setelah mengalami masalah teknis saat dalam pelayaran dari Kota Zamboanga di Pulau Mindanao menuju Pulau Jolo di Provinsi Sulu, Filipina selatan. Kapal itu berangkat pada malam hari dan tenggelam tidak lama setelah tengah malam, sekitar 1,8 kilometer dari desa Baluk-baluk di Provinsi Basilan.
Peristiwa ini terjadi di perairan yang secara geografi dikenal memiliki rute kapal reguler antar pulau, di mana transportasi laut menjadi tulang punggung mobilitas warga setempat baik penumpang maupun barang.
Seorang officer keselamatan dari Penjaga Pantai Filipina yang berada di atas kapal menjadi saksi pertama masalah yang terjadi dan berhasil mengirimkan sinyal darurat sebelum kapal tenggelam sepenuhnya.
Jumlah Penumpang dan Korban
Menurut pernyataan resmi dari Philippine Coast Guard (PCG):
- Jumlah orang yang berada di kapal: Sekitar 359 orang (332 penumpang + 27 awak)
- Selamat hingga kini: Diperkirakan 316 orang berhasil diselamatkan oleh tim SAR dan dibawa ke daratan.
- Korban tewas: Setidaknya 15 orang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
- Masih hilang: Puluhan orang masih dinyatakan hilang atau belum ditemukan dalam pencarian. Jumlah pasti masih berubah sambil pencarian terus dilakukan.
Sementara beberapa laporan awal dari media internasional sempat menyebutkan jumlah korban yang lebih rendah (misalnya 7 atau 13 tewas dalam laporan awal), sumber terbaru AFP dan Associated Press telah mengonfirmasi jumlah korban tewas mencapai 15 orang berdasarkan data terbaru Penjaga Pantai Filipina.
Operasi Pencarian dan Penyelamatan
Operasi besar-besaran dilancarkan segera setelah kapal mengirimkan sinyal darurat.
Pihak yang terlibat:
- Penjaga Pantai Filipina (Philippine Coast Guard)
- Angkatan Laut Filipina
- Pesawat pengintai dan helikopter dari Angkatan Udara
- Kapal-kapal nelayan setempat yang turut membantu evakuasi korban.
Dalam operasi SAR ini, tim SAR membawa para korban selamat ke dermaga di Isabela City, Basilan, di mana ambulans dan tenaga medis telah menunggu untuk memberikan pertolongan pertama. Beberapa korban yang selamat termasuk pihak lansia dan mereka yang mengalami cedera ringan maupun berat.
Penyebab Hingga Kini Masih Diselidiki
Hingga kini, penyebab pasti tenggelamnya kapal belum diumumkan secara resmi. Otoritas Filipina mengatakan kapal telah melalui pemeriksaan keselamatan sebelum keberangkatan, dan tidak ada indikasi jelas bahwa kapal kelebihan muatan.
Namun, beberapa faktor yang rutin menjadi penyebab kecelakaan laut di Filipina termasuk masalah teknis, kondisi pemeliharaan kapal, serta cuaca lokal atau gelombang lautan masih menjadi bahan investigasi.
Mengapa Insiden Kapal Sering Terjadi di Filipina?
Filipina merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 7.000 pulau, sehingga transportasi laut menjadi cara utama untuk menghubungkan antarpulau. Namun, sejarah negara ini juga dipenuhi oleh sejumlah kecelakaan kapal laut yang tragis mulai dari kapal kecil hingga feri besar karena beberapa faktor seperti:
- Cuaca yang berubah cepat
- Overcrowding (kepadatan penumpang)
- Pemeliharaan kapal yang kurang memadai
- Penegakan standar keselamatan yang masih lemah di daerah terpencil
Salah satu tragedi feri terdahsyat dalam sejarah negara itu adalah kapal Dona Paz pada 1987, yang menewaskan lebih dari 4.300 orang setelah bertabrakan dengan sebuah tanker minyak hingga kini menjadi bencana maritim paling fatal di era damai.
Reaksi Pemerintah dan Publik
Pemerintah daerah Basilan dan pihak berwenang nasional telah menyatakan belasungkawa dan komitmen untuk melakukan penyelidikan menyeluruh atas penyebab tragedi ini. Mereka juga menekankan pentingnya perbaikan standar keselamatan transportasi laut demi mencegah bencana serupa di masa depan.
Warga dan relawan lokal juga turut aktif membantu dalam evakuasi dan dukungan kepada keluarga korban, menunjukkan solidaritas komunitas yang kuat di tengah situasi darurat.











