Harga Sembako di Medan Melambung di Awal 2026, Cabai Tembus Rp90 Ribu

Harga Sembako di Medan Melambung di Awal 2026, Cabai Tembus Rp90 Ribu

GUDANG NARASI – Memasuki minggu pertama di bulan Januari 2026, masyarakat Kota Medan, Sumatera Utara, mulai mengeluhkan lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok (sembako) di berbagai pasar tradisional. Kenaikan harga yang cukup signifikan ini dipicu oleh menipisnya pasokan barang ke tingkat pedagang akibat libur panjang pergantian tahun serta faktor cuaca yang mengganggu distribusi dari daerah penghasil.

Pantauan di beberapa pasar utama seperti Pasar Sukaramai, Pasar Petisah, dan Pasar Sei Kambing menunjukkan bahwa komoditas bumbu dapur, terutama kelompok cabai dan sayur-mayur, menjadi yang paling terdampak. Harga cabai rawit merah bahkan dilaporkan sempat menyentuh angka Rp90.000 per kilogram di beberapa lapak pedagang, naik tajam dibandingkan harga normal di akhir Desember lalu.

Lonjakan Harga Komoditas Utama

Kenaikan harga ini tidak terjadi secara merata pada semua barang, namun komoditas yang bersifat volatile food (pangan bergejolak) mengalami fluktuasi yang paling ekstrem. Berdasarkan data Sistem Informasi Harga Pangan (SIMPANG) Kota Medan dan pantauan lapangan per 3 Januari 2026, berikut adalah rincian kenaikan beberapa komoditas:

  • Cabai Rawit: Mengalami lonjakan dari kisaran Rp70.600 menjadi Rp80.000 hingga Rp90.000 per kg.

  • Cabai Hijau: Naik dari Rp22.000 menjadi Rp28.000 hingga Rp40.000 per kg.

  • Tomat: Mengalami kenaikan drastis dari Rp6.000 menjadi Rp9.000 per kg (naik 50%).

  • Sayuran (Kol & Buncis): Harga kol naik dari Rp4.000 menjadi Rp5.000 per kg, sementara buncis naik dari Rp22.000 ke Rp24.000 per kg.

  • Bawang Merah & Putih: Terjadi kenaikan tipis di kisaran Rp1.000 hingga Rp2.000 per kg, dengan harga bawang merah berada di level Rp40.000-an per kg.

Sektor protein hewani juga tidak luput dari tren kenaikan. Harga daging ayam ras terpantau merangkak naik ke kisaran Rp37.000 hingga Rp44.000 per kg di tingkat eceran, sementara harga telur ayam juga masih bertahan di level tinggi.

Penyebab Utama: Libur Panjang dan Rantai Distribusi

Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan dampak langsung dari berkurangnya aktivitas di tingkat hulu dan distribusi selama masa libur Tahun Baru 2026.

“Penurunan pasokan ini lebih dikarenakan oleh libur panjang, di mana banyak pedagang besar dan petani yang masih memilih untuk berlibur. Akibatnya, barang yang masuk ke pasar-pasar di Medan berkurang drastis sementara permintaan masyarakat tetap stabil atau bahkan meningkat,” ujar Gunawan.

Selain faktor libur, kendala cuaca di daerah produsen seperti Kabupaten Karo dan Simalungun juga turut menghambat proses panen dan pengiriman barang. Hujan yang intensitasnya meningkat di awal tahun membuat kualitas sayuran menurun dan risiko gagal panen meningkat, yang secara otomatis mendorong harga di pasar tujuan seperti Medan naik demi menutup kerugian petani dan distributor.

Keluhan Pedagang dan Konsumen

Kenaikan harga ini membuat omzet para pedagang menurun. Banyak konsumen yang memilih untuk mengurangi jumlah belanjaan mereka.

“Biasanya beli sekilo, sekarang pelanggan hanya beli seperempat atau setengah kilo saja. Kami pedagang juga serba salah, kalau dijual murah kami rugi modal, kalau dijual mahal pembeli berkurang,” keluh Inang boru Sinaga, seorang pedagang sayur di Pasar Petisah.

Di sisi lain, ibu rumah tangga mulai memutar otak untuk menyiasati uang belanja.

“Awal tahun biasanya memang naik, tapi kali ini terasa sekali karena berbarengan dengan kebutuhan sekolah anak. Kami berharap pemerintah segera melakukan operasi pasar agar harga kembali normal,” ujar Mariana, warga Medan Amplas.

Prediksi dan Langkah Antisipasi

Meskipun saat ini harga masih tinggi, para ahli memperkirakan bahwa situasi ini hanya bersifat sementara. Seiring dengan kembalinya aktivitas para petani dan normalnya jalur distribusi per Senin besok, pasokan diharapkan akan kembali melimpah.

Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) terus melakukan pemantauan harga secara berkala. Masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan panic buying karena stok pangan secara nasional dan regional dipastikan masih mencukupi untuk kebutuhan bulan Januari.

Operasi pasar murah diperkirakan akan menjadi opsi jika tren kenaikan ini terus berlanjut hingga pertengahan bulan, guna menjaga daya beli masyarakat dan menekan angka inflasi daerah di awal tahun 2026.