GUDANG NARASI – Kabupaten Aceh Tamiang, yang terletak di ujung timur Aceh, baru-baru ini menjadi saksi bisu dari kengerian pascabencana alam yang mengguncang Sumatera. Setelah dihantam oleh banjir bandang yang parah, yang dikaitkan dengan dampak Siklon Senyar, wilayah ini sempat terisolasi selama hampir sepekan, menciptakan kondisi mencekam yang digambarkan warga seperti berada di “kota zombie”.
Kondisi terparah mulai terasa sejak akhir November 2025, ketika sebagian besar kecamatan di Aceh Tamiang terendam air dengan ketinggian yang mencapai 3 hingga 4 meter. Komunikasi terputus, jaringan listrik lumpuh total, dan akses darat nyaris mustahil ditembus. Selama masa kritis itu, ribuan warga berjuang untuk bertahan hidup di tengah kegelapan total dan pasokan yang menipis.
Terisolasi dan Bau Kematian
Setelah hari-hari pertama banjir surut perlahan, wajah Aceh Tamiang berubah drastis. Pusat kota Kuala Simpang, yang biasanya ramai, kini dipenuhi lumpur tebal dan puing-puing bangunan yang hancur. Namun, yang paling menekan batin warga yang mulai kembali ke rumah adalah aroma kematian yang menyengat.
Menurut laporan warga dan tim evakuasi, bau busuk berasal dari bangkai-bangkai hewan ternak yang mati terendam banjir. Sapi, kambing, dan unggas banyak ditemukan mengambang atau tertimbun lumpur, terutama di area peternakan dan permukiman padat. Bahkan, di beberapa titik sentra kota, bangkai-bangkai binatang bertebaran, memaksa petugas dan warga yang melintas menutup hidung rapat-rapat. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi merebaknya penyakit pascabanjir.
“Ini seperti kota zombie. Gelap gulita total, tidak ada suara kehidupan normal, hanya suara air, teriakan, dan bau busuk yang kuat sekali,” tutur seorang warga yang enggan disebut namanya, yang rumahnya hancur di sekitar pinggiran kota. “Kami hanya bisa berharap bantuan segera datang. Banyak jenazah yang harus diurus, tapi yang paling kami takuti adalah penyebaran penyakit dari bau bangkai ini.”
Penjarahan dan Krisis Kemanusiaan
Keterbatasan akses dan terputusnya komunikasi selama hampir tujuh hari menciptakan kekosongan keamanan yang dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Laporan mengenai insiden penjarahan mulai bermunculan. Toko-toko yang ditinggalkan pemiliknya karena terendam banjir menjadi sasaran utama.
Di tengah situasi darurat kemanusiaan, di mana kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan obat-obatan sangat mendesak, tindakan penjarahan ini menambah penderitaan bagi para korban yang sudah kehilangan segalanya. Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Kabupaten Aceh Tamiang, Ishak Kureng, yang juga menjadi korban karena rumahnya hancur dihantam banjir, baru bisa melaporkan kondisinya setelah mendapatkan sinyal telepon pada hari ketujuh pascabencana. Ia mendesak aparat keamanan untuk segera memulihkan ketertiban agar bantuan yang mulai masuk bisa disalurkan tanpa hambatan dan ancaman penjarahan.
Bantuan Mulai Menembus
Pemulihan akses di Aceh Tamiang menjadi prioritas utama penanganan bencana. Pada hari-hari pertama, satu-satunya cara untuk menyalurkan bantuan ke daerah paling terisolasi adalah melalui jalur udara menggunakan helikopter. Bantuan berupa makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan didistribusikan ke lokasi-lokasi pengungsian yang sulit dijangkau.
Akses jalan ke arah Langsa dari Kuala Simpang dilaporkan mulai terbuka, meskipun masih membutuhkan penanganan serius. Sementara itu, jalur ke arah Medan masih menerapkan sistem buka-tutup satu arah, dengan prioritas utama diberikan kepada truk pengangkut bantuan dan bus penumpang. Ini menandakan dimulainya fase pemulihan, namun skala kerusakan yang masif membutuhkan waktu dan sumber daya yang sangat besar.
Petugas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim SAR daerah terus berupaya mempercepat operasi pencarian korban yang dilaporkan hilang. Selain itu, upaya penanganan bangkai dan sanitasi darurat juga sedang digalakkan untuk mencegah timbulnya wabah penyakit.
Kisah mencekam di Aceh Tamiang menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan kehidupan manusia di hadapan kekuatan alam. Dengan puluhan ribu warga mengungsi, kerugian material yang tak terhitung, dan trauma psikologis yang mendalam, pemulihan Aceh Tamiang akan menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan dukungan dan perhatian dari seluruh pihak.











