GUDANG NARASI – Bencana banjir yang melanda Provinsi Aceh dalam beberapa hari terakhir terus menimbulkan dampak yang sangat besar, dengan jumlah korban jiwa yang terus bertambah. Hingga Selasa (30/11), data terbaru yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh mencatatkan sebanyak 47 orang meninggal dunia akibat bencana ini. Selain itu, 51 orang masih dalam pencarian setelah dilaporkan hilang, sementara ribuan orang lainnya terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri.
Banjir yang terjadi sejak akhir pekan lalu disebabkan oleh hujan lebat yang mengguyur hampir seluruh wilayah Aceh, terutama di daerah dataran rendah seperti Aceh Besar, Bireuen, dan Langsa. Curah hujan yang ekstrem menyebabkan sejumlah sungai besar meluap, menyebabkan banjir bandang yang menggenangi ribuan rumah dan fasilitas umum. Banjir ini juga merendam lahan pertanian dan merusak infrastruktur vital seperti jalan raya, jembatan, dan jaringan listrik.
Upaya Pencarian dan Pertolongan
Tim SAR, dibantu oleh personel dari TNI, Polri, serta relawan, terus melakukan pencarian terhadap 51 korban yang masih hilang. Proses pencarian terhambat oleh kondisi cuaca buruk dan medan yang sulit dijangkau, namun upaya tersebut tetap dilakukan dengan segala sumber daya yang tersedia. Tim juga menggunakan perahu karet dan helikopter untuk menjangkau wilayah yang terdampak parah.
Salah seorang korban yang selamat, Agus (34), menceritakan pengalamannya saat banjir datang secara tiba-tiba pada malam hari.
“Waktu itu hujan deras banget, tiba-tiba air naik dengan cepat. Saya dan keluarga langsung lari ke tempat yang lebih tinggi. Banyak yang tidak sempat menyelamatkan diri,” ujar Agus, yang kini berada di pengungsian bersama keluarganya di Banda Aceh.
Kerugian Material dan Infrastruktur
Selain dampak korban jiwa, bencana banjir ini juga mengakibatkan kerugian material yang sangat besar. Ribuan rumah rusak dan hancur, serta lahan pertanian yang terendam air mengancam ketahanan pangan di wilayah tersebut. Pemerintah setempat sudah mulai mendata kerugian tersebut untuk langkah rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana.
Banjir juga menyebabkan terputusnya akses transportasi di beberapa daerah. Jalan-jalan utama di Kabupaten Aceh Besar dan Bireuen terendam, menghambat distribusi bantuan dan evakuasi korban. Pemerintah pusat telah mengirimkan bantuan darurat berupa makanan, obat-obatan, dan perlengkapan kebutuhan dasar lainnya untuk para korban, serta tim medis untuk membantu menangani korban luka-luka.
Peringatan Dini dari BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem dengan hujan lebat masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. BMKG juga mengimbau masyarakat di daerah rawan banjir untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana serupa. Pihak berwenang juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir susulan, yang bisa memperburuk situasi di wilayah-wilayah yang sudah terendam.
Harapan dan Soliditas Masyarakat
Sementara itu, di tengah krisis ini, banyak warga Aceh yang menunjukkan semangat solidaritas yang tinggi. Relawan dan warga setempat bergotong royong membantu para korban banjir dengan menyalurkan makanan dan barang-barang kebutuhan darurat. Para pengungsi pun mendapat dukungan moral dari komunitas yang saling membantu satu sama lain.
Masyarakat berharap agar proses pencarian korban yang hilang dapat segera membuahkan hasil, dan pemerintah serta lembaga terkait dapat memberikan bantuan yang maksimal dalam penanggulangan bencana ini. Para korban yang selamat berharap agar kondisi segera membaik, dan mereka dapat kembali membangun kehidupan mereka pasca-banjir.
Kondisi darurat ini menuntut kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah, relawan, maupun masyarakat, untuk membantu proses pemulihan. Bagi warga Aceh, bencana ini menjadi ujian berat, namun solidaritas dan semangat gotong royong yang kuat diharapkan dapat menjadi kekuatan untuk bangkit bersama.










