GUDANG NARASI – Kejadian penjarahan di sebuah minimarket Indomaret di Sibolga, Sumatera Utara, menggemparkan warga setempat. Insiden ini terjadi setelah akses jalur bantuan ke daerah tersebut terputus akibat bencana alam yang melanda beberapa hari lalu. Ketegangan sosial yang meningkat, ditambah dengan kelangkaan bahan kebutuhan pokok, memicu aksi anarkis oleh sejumlah warga yang berusaha mendapatkan persediaan barang.
Pada Sabtu pagi, sejumlah warga yang terisolasi akibat banjir bandang dan tanah longsor mulai melakukan tindakan yang meresahkan. Mereka mendatangi gerai Indomaret yang terletak di pusat kota Sibolga dan memaksa masuk ke dalam toko. Beberapa di antaranya terlihat mengangkut barang-barang kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan instan, air mineral, hingga produk kebersihan, tanpa memedulikan tindakan hukum.
Penjarahan ini semakin memanas karena kekurangan pasokan bahan pokok yang terjadi setelah jalur distribusi logistik terputus. Keadaan ini diperburuk dengan semakin sulitnya akses ke daerah-daerah yang terdampak bencana. Sejak bencana pertama kali terjadi, banyak jalan utama menuju kota Sibolga tertutup longsor, sementara jalur alternatif juga terhalang banjir.
Warga yang merasa kesulitan mendapatkan bantuan pangan dan kebutuhan lainnya semakin terdesak. Sebelumnya, warga sudah melakukan protes terhadap lambannya distribusi bantuan yang belum juga tiba, meskipun pemerintah setempat dan pihak berwenang telah menjanjikan pengiriman bantuan ke daerah-daerah terdampak. Kondisi ini menciptakan ketegangan yang akhirnya meluap dalam bentuk aksi penjarahan.
Kapolres Sibolga, AKBP Hendra Saputra, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menegaskan bahwa pihak kepolisian segera merespons dengan menerjunkan sejumlah personel untuk mengamankan lokasi.
“Kami telah berhasil mengamankan sebagian besar pelaku penjarahan dan memulihkan ketertiban di sekitar lokasi. Kami juga akan terus mengawasi situasi agar tidak ada tindakan serupa yang merugikan masyarakat,” ujar Hendra.
Pihak Indomaret, melalui pernyataan resminya, menyampaikan keprihatinan atas peristiwa tersebut. Mereka mengaku siap bekerja sama dengan pihak berwajib untuk mengungkap siapa saja yang terlibat dalam aksi tersebut.
“Kami sangat menyayangkan peristiwa ini, mengingat minimarket kami sudah berusaha menyediakan barang-barang kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat. Namun, situasi yang terjadi sangat sulit dikendalikan akibat bencana dan ketegangan sosial yang meningkat,” ungkap juru bicara Indomaret.
Bencana yang terjadi di Sibolga memang mengakibatkan kerusakan yang cukup parah di beberapa titik. Banjir bandang yang melanda beberapa kawasan mengakibatkan rumah-rumah rusak, sementara longsor menutup akses utama menuju kota. Masyarakat yang terisolasi merasa semakin kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan pokok mereka.
Untuk merespons situasi ini, pemerintah daerah Sibolga bersama dengan instansi terkait tengah berupaya mengirimkan bantuan dengan menggunakan jalur udara dan laut. Namun, akses yang terbatas dan cuaca yang tidak menentu menyebabkan proses distribusi bantuan menjadi lebih lambat.
Selain itu, masyarakat setempat juga mengingatkan pentingnya solidaritas dalam menghadapi bencana, agar tidak terjebak dalam situasi panik yang dapat memicu aksi-aksi yang merugikan. Beberapa tokoh masyarakat menyarankan agar pemerintah segera memperbaiki infrastruktur dan mempercepat distribusi bantuan agar masyarakat tidak semakin terdesak.
Kondisi darurat ini menunjukkan betapa pentingnya manajemen bencana yang lebih baik di masa depan, serta perlunya upaya lebih besar dalam mengatasi kelangkaan barang dan bahan pokok di daerah-daerah yang terdampak. Pemerintah dan masyarakat diharapkan bisa bekerja sama agar ketegangan ini segera mereda dan tidak menambah penderitaan bagi mereka yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.










