GUDANG NARASI – Pantai Air Tawar di Padang menampilkan pemandangan yang jauh berbeda dari biasanya setelah banjir bandang melanda wilayah hulu beberapa hari terakhir. Arus deras yang membawa material dari hulu sungai menyeret potongan kayu besar hingga mencapai bibir pantai. Kini sepanjang garis pantai dipenuhi oleh tumpukan kayu gelondongan mulai dari batang pohon utuh, potongan kayu besar, hingga sisa-sisa vegetasi yang terbawa banjir. Pemandangan ini mencerminkan betapa kuatnya terjangan air yang sebelumnya melanda kawasan hulu dan mengalir deras ke pesisir.
Beberapa foto yang beredar menunjukkan warga tampak berjalan di antara tumpukan kayu yang berserakan. Kondisi ini menggambarkan besarnya dampak banjir bandang yang terjadi, karena volume kayu yang terbawa tampak luar biasa dan tidak lazim terlihat di Pantai Air Tawar pada hari-hari normal.
Asal Usul Kayu Gelondongan dari Hulu Sungai
Kayu gelondongan yang memenuhi pantai ini berasal dari kawasan hulu sungai yang mengalami banjir bandang. Curah hujan tinggi dan kondisi hutan yang diduga mengalami penurunan tutupan menjadi faktor utama yang membuat material alam mudah terseret arus. Ketika hujan deras turun tanpa henti, aliran sungai membesar dan menghanyutkan pepohonan tumbang serta potongan kayu dari area hutan.
Situasi ini sekaligus menjadi indikator kerentanan kawasan hulu. Hilangnya vegetasi dan rapuhnya ekosistem membuat tanah di hulu lebih mudah longsor, sementara batang pohon dan material lain tidak tertahan oleh akar pohon yang seharusnya memadatkan tanah. Akibatnya, saat banjir terjadi, kayu-kayu besar langsung terseret dan terbawa hingga ke hilir.
Banyak pihak menilai bahwa fenomena kayu gelondongan yang memenuhi pantai ini merupakan alarm kerusakan lingkungan. Aktivitas pembalakan liar atau penebangan hutan secara masif tanpa kontrol sering disebut sebagai penyebab utama rusaknya ekosistem hulu. Ketika hutan kehilangan fungsinya, bencana di hilir tidak lagi terelakkan.
Dampak Terhadap Lingkungan dan Masyarakat
Tumpukan kayu gelondongan yang memenuhi Pantai Air Tawar memberi dampak besar terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat. Pertama, dari sisi estetika dan lingkungan, pantai yang biasanya menjadi tempat wisata kini berubah menjadi lautan kayu. Material kayu yang menumpuk tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mencemari kawasan pesisir dan mengganggu ekosistem laut dangkal.
Kedua, kondisi ini menimbulkan ancaman keselamatan bagi warga. Kayu berukuran besar yang terseret ombak berpotensi mencelakai pengunjung maupun warga yang melakukan aktivitas di sekitar pantai. Dengan gelombang laut yang tidak menentu, kayu dapat bergerak dan menimbulkan bahaya jika tidak segera dibersihkan.
Ketiga, dari sisi ekonomi, masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata mengalami dampak langsung. Pantai Air Tawar merupakan salah satu destinasi favorit warga lokal, dan kondisi ini membuat pengunjung enggan datang. Usaha kecil seperti pedagang, penyewaan wahana, atau pengelola wisata terancam kehilangan pemasukan jika kondisi pantai tidak segera pulih.
Isu Kerusakan Hutan dan Respons Publik
Fenomena ini memicu diskusi luas mengenai kondisi hutan di wilayah hulu. Banyak pihak menilai bahwa jumlah kayu gelondongan yang terbawa banjir tidak mungkin terjadi dalam skala besar tanpa adanya kerusakan hutan yang signifikan. Dugaan adanya aktivitas pembalakan liar menguat, apalagi tumpukan kayu yang hanyut terlihat dalam ukuran dan jumlah yang besar.
Masyarakat serta pemerhati lingkungan mendesak pemerintah daerah untuk melakukan penyelidikan terhadap kondisi hutan di hulu sungai. Menurut mereka, kejadian ini merupakan bukti nyata perlunya penegakan hukum dan penguatan pengawasan terhadap aktivitas di kawasan hutan lindung.
Aksi Warga dan Pemerintah Daerah
Usai kejadian, sejumlah warga tampak menyusuri pantai untuk melihat kerusakan dan memeriksa kondisi sekitar. Sebagian warga bahkan mencoba memindahkan potongan kayu kecil, namun jumlahnya terlalu banyak untuk dibersihkan secara manual. Pemerintah daerah segera mendapat tekanan publik untuk bertindak cepat melakukan pembersihan serta melakukan asesmen menyeluruh terhadap dampak banjir bandang.
Selain itu, pemerintah diminta mengevaluasi kondisi daerah hulu agar kejadian serupa tidak terulang. Pembersihan pantai dinilai hanya langkah awal, sementara perbaikan ekosistem hutan menjadi langkah kunci untuk mencegah bencana lebih besar di masa mendatang.










