Transformasi Digital di Pasar Tanah Abang: Dari Toko Fisik ke Live Streaming

Transformasi Digital di Pasar Tanah Abang Dari Toko Fisik ke Live Streaming

GUDANG NARASI – Pasar Tanah Abang, yang dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil dan fashion terbesar di Asia Tenggara, kembali menarik perhatian menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru 2026. Pada Rabu (24/12), pasar yang berada di Jakarta Pusat itu tampak sangat ramai sejak pagi hingga siang hari. Ribuan pengunjung membanjiri lorong-lorong Blok A dan Blok B untuk berburu pakaian, hijab, jaket, sepatu, hingga kebaya, menandakan geliat ekonomi riil yang tetap hidup di tengah tantangan digitalisasi perdagangan modern.

Namun, keramaian fisik itu bukan satu-satunya tanda hidupnya bisnis di Tanah Abang. Di era digital saat ini, para pedagang mulai mengadopsi model bisnis hybrid yang menggabungkan cara tradisional tatap muka dengan strategi penjualan daring melalui live streaming sebuah tren yang semakin menguat di pasar-pasar tradisional besar Indonesia.

Tren Hybrid: Tradisional Bertemu Digital

Perubahan perilaku belanja masyarakat Indonesia terutama generasi muda telah mendorong banyak pedagang Tanah Abang untuk mencoba kanal penjualan baru. Alih-alih hanya mengandalkan transaksi langsung di lapak, sejumlah pedagang kini memanfaatkan platform digital seperti TikTok untuk melakukan siaran langsung dan menjual produk mereka secara real time.

Contohnya, Darmanto, seorang penjual hijab di Blok B, rutin melakukan live streaming di TikTok sejak pagi hingga sore. Siaran ini diselenggarakan di tengah aktivitas pelanggannya yang datang langsung ke toko. Dari penjualan live streaming tersebut, ia bisa menjaring ratusan penonton dan mendapatkan tambahan pendapatan Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu per hari. Walaupun pendapatan terbesar masih berasal dari transaksi fisik, strategi hybrid ini memungkinkan pedagang seperti Darmanto mendapatkan sumber omzet baru di luar jam sibuk toko.

Hal serupa juga dirasakan oleh Cici, seorang pedagang baju anak. Menurutnya, live streaming menjadi tambahan kanal penjualan yang menjanjikan meski hasilnya sangat bergantung pada jumlah penonton dan tingkat interaksi mereka dengan produk yang ditampilkan. Namun, ia sepakat bahwa transaksi langsung di toko tetap menjadi sumber pendapatan utama.

Dampak Digitalisasi pada UMKM Pasar

Transformasi digital dalam perdagangan Tanah Abang bukan fenomena baru. Sebelum akhir 2025, pemerintah DKI Jakarta bahkan mengadakan program digitalisasi pasar sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi transaksi dan daya saing pedagang tradisional. Digitalisasi ini dianggap penting agar pasar tetap relevan dengan perilaku konsumen modern sekaligus mengurangi praktik negatif seperti pencopetan yang sering terjadi di area pasar ramai.

Menurut studi sosial tentang tren live shopping, metode ini telah menjadi strategi pemasaran dan penjualan yang berkembang pesat di Indonesia sejak pandemi COVID-19. Live streaming memungkinkan penjual dan pembeli berinteraksi secara langsung, memfasilitasi komunikasi dua arah yang mirip dengan tawar-menawar tradisional di pasar fisik namun dalam format digital.

Peluang dan Tantangan Pedagang Hybrid

Model bisnis hybrid membuka peluang bagi banyak pedagang untuk memenangkan dua pasar sekaligus pembeli konvensional dan pembeli digital. Namun, adopsi strategi baru ini tidak tanpa tantangan.

Sejumlah pedagang mencatat bahwa penjualan online masih belum stabil, terutama karena pergerakan viewer dan tingkat konversi yang bisa berubah-ubah setiap sesi live. Belum lagi kompetisi harga di platform digital yang terkadang membuat harga barang harus diturunkan demi menarik minat pembeli.

Selain itu, pedagang juga harus mempelajari teknik baru dalam pemasaran digital, termasuk memahami algoritma platform live streaming, cara menarik perhatian penonton, serta strategi interaksi yang efektif untuk meningkatkan penjualan. Bagi sebagian pedagang yang lebih terbiasa dengan pendekatan tradisional, ini tentu merupakan tantangan tersendiri.

Strategi Masa Depan: Investasi Digital

Meski hasil penjualan online masih bervariasi, banyak pedagang Tanah Abang yang melihat kanal digital sebagai investasi jangka panjang. Mereka yakin bahwa kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen akan semakin penting di masa mendatang. Sebagai bagian dari strategi itu, pedagang seperti Usman yang menjual pakaian reject di area Jembatan Penyeberangan Multiguna menegaskan bahwa digitalisasi tetap akan dijalankan terus meski saat ini penjualan daringnya masih terbatas.

Selain itu, bisnis hybrid juga dianggap sebagai cara untuk memperluas pasar hingga ke luar Jakarta atau bahkan ke seluruh Indonesia. Dengan live streaming, pedagang tidak lagi terbatas pada pengunjung fisik yang datang ke Tanah Abang mereka dapat menjangkau pelanggan di daerah terpencil yang lebih memilih belanja online.