99,11% Warga Bandung Kini Terjamin Kesehatannya, Pastikan Sekda Kota

99,11% Warga Bandung Kini Terjamin Kesehatannya, Pastikan Sekda Kota

GUDANG NARASI Kota Bandung kembali menorehkan prestasi membanggakan di awal tahun 2026. Per 1 Februari 2026, cakupan jaminan kesehatan warga Kota Bandung melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berhasil menembus angka 99,11 %, atau nyaris mencakup seluruh populasi kota yang mencapai sekitar 2,6 juta jiwa. Artinya, dari setiap 100 warga Bandung, hampir 99 orang kini resmi memiliki perlindungan layanan kesehatan yang terjamin oleh program nasional tersebut.

Kenaikan pencapaian ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pada Januari 2026, tingkat Universal Health Coverage (UHC) di Bandung berada di angka sekitar 98,03 %, artinya dalam kurun satu bulan saja terjadi lonjakan lebih dari satu persen dalam peserta JKN. Peningkatan ini menunjukkan upaya serius pemerintah kota dan berbagai pemangku kepentingan dalam memastikan kesehatan warga tidak hanya menjadi jargon, tetapi nyata di masyarakat.

Data Baru yang Menggembirakan: Hampir Semua Warga Terdaftar

Meningkatnya angka UHC hingga 99,11 % berarti sekitar 2.576.502 jiwa dari total 2.599.743 penduduk telah terdaftar sebagai peserta JKN. Angka yang tersisa, sekitar 23 ribu jiwa, menjadi target berikutnya yang terus dikejar pemerintah kota agar semua warga benar‑benar terlindungi.

Capaian ini bukan hanya angka semata, tetapi menjadi simbol bahwa hampir setiap lapisan masyarakat Bandung kini memiliki akses layanan kesehatan yang setara, dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas/klinik) hingga layanan rumah sakit sesuai ketentuan program JKN. Komposisi peserta meliputi berbagai segmen, mulai dari Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibantu pemerintah, tenaga kerja penerima upah, pekerja mandiri, hingga bukan pekerja.

Program Unggulan & Akses Layanan Lebih Luas: Puskesmas 24 Jam

Tak hanya soal angka pendaftaran, warga Bandung juga kini merasakan langsung manfaat layanan kesehatan yang semakin lengkap dan mudah diakses. Salah satu inovasi yang menyokong peningkatan UHC adalah kehadiran Puskesmas 24 jam, khususnya di wilayah strategis seperti Bandung Utama. Layanan ini memudahkan warga yang aktif bekerja atau sekolah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa harus terpaku jam operasional tradisional.

Dengan layanan 24 jam ini, puskesmas tidak hanya memberi ruang bagi warga untuk berobat kapan saja, tetapi juga terintegrasi dengan administrasi kependudukan. Misalnya, proses kelahiran kini bisa langsung diikuti dengan penerbitan akta kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA), dan pembaruan Kartu Keluarga — langkah sinergis yang mengurangi beban administratif bagi orang tua baru.

Tantangan & Harapan di Balik Angka Positif: Menuju 100 % Perlindungan

Meski capaian UHC Bandung sudah mencapai 99 % lebih, pemerintah daerah tidak merasa puas. Selisih sekitar 23 ribu warga yang belum terdaftar menjadi target utama berikutnya agar Bandung benar‑benar mencapai perlindungan universal 100 %. Upaya ini melibatkan partisipasi aktif dari seluruh perangkat pemerintah hingga tingkat kelurahan untuk menjaring warga yang belum terdaftar.

Pemerintah Kota Bandung menegaskan pentingnya memperluas kesadaran masyarakat guna memastikan setiap warga memahami manfaat dan mekanisme kepesertaan program JKN. Capaian ini juga dianggap sebagai bentuk perwujudan hak dasar warga atas kesehatan, sebuah jaminan sosial yang layak dan berkesinambungan di tengah kompleksitas kebutuhan layanan medis modern.

Kesehatan Warga sebagai Prioritas Utama

Capaian 99,11 % UHC di Kota Bandung adalah sebuah langkah besar dalam rangka memperkuat sistem kesehatan publik. Prestasi ini menggambarkan kerja keras kolaboratif antara pemerintah kota, dinas kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta warga itu sendiri untuk menjadikan kesehatan sebagai fondasi utama kesejahteraan masyarakat.

Dengan tren positif yang terus berlanjut, harapannya Bandung mampu menjadi contoh bagi kota‑kota lain di Indonesia dalam mengimplementasikan program jaminan kesehatan secara menyeluruh. Prioritas pada kesehatan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup warga, tetapi juga memperkuat daya tahan sosial dan ekonomi masyarakat luas di masa depan.